Pemakaian mesin dan peralatan baru dalam bidang industri serta pemanfaatan teknologi untuk mendapatkan produk yang tinggi diharapkan akan dapat mencapai sasaran kualitas hidup manusia yang lebih baik. Namun dalam kenyataannya kualitas hidup yang hendak dicapai terasa masih sulit dijangkau bahkan mungkin terasa makin jauh dari jangkauan. Hal ini tak lain disebabkan oleh adanya dampak teknologi dan industri terhadap lingkungan dan kehidupan manusia. Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) seperti solar yang berlebihan saat ini berdampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu usaha yang efektif untuk mengurangi dampak lingkungan adalah menciptakan bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan solar dengan karakteristik yang sama tetapi dengan emisi gas buang yang ramah lingkungan dalam hal ini adalah biodiesel minyak biji kapuk.
Pengujian ini dilaksanakan untuk mengetahui kadar emisi dari masing-masing bahan bakar baik itu solar sebagai pembanding maupun biodiesel minyak biji kapuk. Adapun data-data yang diperlukan adalah kadar emisi CO, kadar emisi HC, dan kadar kepekatan asap.
Berdasarkan hasil penelitian Bahan bakar biodiesel minyak biji kapuk memiliki nilai emisi CO lebih rendah dari pada bahan bakar solar dengan nilai emisi biodiesel sebesar 0.02 % sedangkan nilai emisi untuk bahan bakar solar sebesar 0.051 %. Nilai emisi HC dari bahan bakar biodiesel minyak biji kapuk lebih kecil dibandingkan dengan bahan bakar solar dengan nilai emisi HC untuk solar sebesar 30.88 ppm sedangkan kadar emisi biodiesel sebesar 17.34 ppm. Nilai kepekatan asap (opasitas) biodiesel kapok lebih rendah daripada solar dengan nilai opasitas untuk solar sebesar 6.64 % sedangkan nilai opasitas biodiesel sebesar 2.39 %.
Dengan adanya pengujian emisi biodiesel minyak biji kapuk ini maka kebutuhan akan bahan bakar yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui sebagai alternatif pengganti bahan bakar solar dapat terwujud.
Kamis, 04 Maret 2010
Langganan:
Postingan (Atom)